Tampilkan postingan dengan label TENTANG GASING. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TENTANG GASING. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Maret 2009

Festival Gasing Nusantara

Gasing adalah salah satu bentuk permainan rakyat tradisional yang keberadaannya dikenal oleh hampir semua suku bangsa Indonesia. Wilayah persebarannya sangat luas, karena semua daerah yang ada di wilayah kepulauan Indonesia umumnya mengenal permainan ini. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia yang masyarakatnya terdiri dari berbagai suku bangsa dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda-beda mengenal berbagai jenis permainan gasing.

Sebagai salah satu bentuk permainan rakyat tradisional, keberadaan permainan gasing pada awalnya merupakan usaha manusia untuk mengisi waktu senggang dan sebagai sarana hiburan. Selain itu, permainan gasing juga merupakan suatu perwujudan dari tingkah laku manusia yang dilakukan dalam kegiatan fisik dan mental, serta merupakan hasil budaya manusia yang terwujud dari serentetan nilai-nilai yang menurut masyarakat atau kelompok suku bangsa pendukungnya diakui keberadaannya. Dalam perkembangannya, permainan gasing juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk menanamkan nilai-nilai luhur dan membina sikap mental serta keterampilan tertentu pada masyarakat pendukungnya. Oleh karena itu, perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan permainan gasing merupakan bagian penting bagi penguatan jati diri atau identitas bangsa.

Sebagai upaya perlindungan, pengembangan dan pemanfaatan permainan gasing, maka Direktorat Tradisi telah melakukan serangkaian kegiatan yang berkaitan dengan permainan gasing, diantaranya: workshop dan pameran permainan rakyat tradisional di Ragunan (tahun 2005), lokakarya gasing nusantara di Tanjungpinang (tahun 2006), uji petik pedoman pertandingan gasing tingkat nasional di pangkalpinang dan Jakarta (tahun 2007), serta sosialisasi pedoman pertandingan gasing tingkat nasional di 8 daerah (tahun 2008).
Berdasarkan serangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan oleh Direktorat Tradisi tersebut, tampak bahwa animo masyarakat terhadap permainan gasing cukup tinggi. Hal ini terlihat dengan adanya keinginan dari komunitas gasing di Indonesia agar permainan tersebut diangkat sebagai olah raga prestasi yang dapat dipertandingkan secara nasional. Untuk itu, sebagai landasannya mereka telah menyusun pedoman pertandingan gasing yang telah disepakati bersama.

Sehubungan dengan hal tersebut, maka pada tahun 2009 Direktorat tradisi yang tugas pokoknya melakukan pelestarian (perlindungan, pengembangan dan pemnfaatan) di bidang kebudayaan merasa perlu menindaklanjuti keinginan komunitas gasing di indonesia dengan jalan menyelenggarakan kegiatan festival gasing nusantara. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi wadah untuk meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.

Kesuksesan penyelenggaraan Festival Gasing Nusantara tahun 2005 yang mendapat tanggapan begitu meriah dari media cetak nasional dan daerah serta peliputan yang sangat aktif dari media elektronik ( televisi ).

Minggu, 01 Maret 2009

NIlai Dalam Permainan Gasing

Dalam perkembangannya, permainan gasing digunakan sebagai sarana menanamkan nilai kerjasama dan kekompakan, nilai kejujuran, nilai keterbukaan, sportivitas, nilai prestise, dan nilai ekonomi


Nilai-nilai dalam permainan Gasing

Pada awalnya permainan gasing hanya dilakukan anak-anak, orang dewasa dan orang tua untuk mengisi waktu luang dan memenuhi kebutuhan akan liburan. Di Bali, di pedesaan lereng gunung Batukaru pada umumnya permainan gasing dilakukan pada musim kemarau ketika panen kopi berlangsung. Lahan bekas menjemur kopi digunakan sebagai arena permainan gasing. Pada masa lampau di wilayah kecamatan Adimulyo, Karanganyar, kabupaten Kebumen, permainan gasing dilakukan setelah musim panen padi berlangsung. Sementara menunggu datangnya hujan untuk menggarap sawah (masa paceklik), para petani, baik anak-anak maupun orang dewasa mengisi waktu luangnya untuk bermain gasing dipekarangan rumah.

Namun dalam perkembangan selanjutnya, permainan gasing digunakan sebagai sarana menanamkan nilai-nilai tertentu antara lain nilai kerjasama dan kekompakan, nilai kejujuran, nilai keterbukaan, sportivitas, nilai prestise, nilai ekonomi dan mendidik sikap mental memegang janji (amanah, musyawarah untuk mufakat, tekun dan teliti, serta melatih ketrampilan dan ketangkasan tertentu).


Artikel Yang Terkait :

  1. http://lagaligo.net/2008/11/kearifan-lokal-permainan-rakyat-gasing/
  2. http://lagaligo.net/2008/11/cerita-rakyat-mandar-di-kabupaten-majene/

Jenis Gasing

Berdasarkan jenisnya, gasing dapat
dikelompokkan kedalam gasing adu suara,
gasing adu putar dan gasing adu pukul.

Arena untuk permainan gasing pada umumnya berupa tanah datar dan keras tidak berdebu dan tidak berumput dengan ukuran arena disetiap daerah di wilayah indonesia bervariasi. Di Jakarta arena gasing berbentuk lingkaran berdiameter 0,5 - 1 meter. Sementara di Tanjungpinang, arena gasing berbentuk persegi empat berukuran 10 x 10 meter dengan bagian atas arena di beri pasir halus. Sementara di desa Munduk, kecamatan Banjar (Bali), arena gasing berbentuk persegi berukuran lebih besar dari arena gasing di wilayah Tanjungpinang dengan kondisi tanah agak kental. Arena tersebut dibagi dalam 4 kuadran yang berukuran sama, digunakan oleh masing-masing pemain melepaskan gasing (pemasang atau pemelek) dan memukul gasing (pemangkak).

Permainan gasing dapat dilakukan secara perorangan dan beregu dengan jumlah anggota regu bervariasi pada masing-masing daerah di Indonesia. Di Bali satu regu dapat berjumlah 6 orang atau lebih, sementara di Tanjungpinang 1 regu berjumlah 10 orang atau lebih dan Jakarta 1 regu berjumlah 5 -10 orang. Di Jawa Barat khususnya Pandeglang 1 regu berjumlah 2 - 6 orang dan di Garut 1 regu berjumlah satu orang hingga tak terbatas.

Secara umum permainan gasing dilakukan oleh 2 orang (perorangan) atau 2 regu, terdiri dari laki-laki. Hal ini berkaitan dengan persyaratan permaianan yang memerlukan kemampuan fisik, gerak cepat dan kelincahan. Satu orang atau satu regu dalam permainan ini bertindak sebagai pemukul atau pemangkak. Sementara regu lain bertindak sebagai penahan atau pemasang. Pemukul (pemangkak) dan penahan ditentukan melalui undian, yaitu dengan mengadu perputaran gasing dari masing-masing perwakilan regu (Bertendin istilah Melayu Natuna).

Jenis Gasing dan Permainannya

Secara umum dapat digambarkan bahwa gasing merupakan salah satu alat permainan yang dibuat dari kayu keras dengan bentuk badan bulat, bulat lonjong, jantung, piring terbang (pipih), kerucut, silinder dan bentuk-bentuk lainnya yang merupakan ciri khas kedaerahan dengan ukuran bervariasi, terdiri dari bagian kepala, bagian badan dan bagian kaki / paksi.

mengenal-gasing-nusantara

Bagian-bagian gasing tersebut, disetiap daerah Indonesia bervariasi. Ada gasing yang memiliki kepala dan leher, seperti gasing yang dijumpai di Ambon (Apiong). Sementara gasing Jakarta dan Jawa Barat tidak memiliki leher, melainkan hanya kepala. Demikian pula pada gasing Jakarta dan Jawa Barat, tampak secara jelas paksi (taji) yang dibuat dari paku atau logam, sementara pada gasing Natuna (propinsi kepulauan Riau), paksinya tidak tampak.

b

Pada umumnya gasing dimainkan dengan cara dan urutan sebagai berikut :

  1. Pertama-tama si pemain memegang gasing tersebut pada tangan kiri.
  2. Kemudian tangan kanan si pemain melilitkan seutas tali pada gasing dimulai dari bagian paksi hingga bagian badan gasing secara kuat. Sementara dibeberapa wilayah Indonesia,lilitan tali dimulai pada bagian kepala gasing hingga bagian badan.
  3. Gasing yang telah dililit tali tersebut, di pindahkan ketangan kanan si pemain, selanjutnya dilempar secara keras kepermukaan tanah yang datar dan

Secara umum gasing yang tersebar di wilayah Indonesia, berdasarkan jenisnya dapat dikelompokkan kedalam gasing adu suara, gasing adu putar, dan gasing adu pukul/adu kekuatan (gasing uri/penahan dan gasing pangkak/pemukul). Diwilayah Jakarta dikenal jenis gasing adu suara yaitu gangsing, dan gasing adu pukul/kekuatan yang disebut panggal.

Keragaman jenis gasing dapat dijumpai pula di wilayah Jawa Barat, meliputi gasing kelangenan (gasing adu suara) dan gasing adu (gasing kolo dan gasing gandek). Sementara di wilayah Tanjungpinang dan sekitarnya (propinsi Kepulauan Riau), dikenal gasing penendin, penahan dan pemangkak. Khusus museum gasing yang terletak di kecamatan Pulau Belakang Padang, Batam hanya dikenal gasing jenis ori (penahan) dan gasing pemangkak atau pengacau. Di wilayah Riau Daratan, dikenal jenis gasing jantung yang khusus diadu dalam pertandingan dan gasing beralik yang hanya dimainkan untuk hiburan atau hanya dipusingkan (diputar) saja. Di Bali dikenal gasing adu kekuatan, terdiri dari gasing penahan (Belek) dan gasing pemukul (gasing Gebug).

Peralatan pendukung untuk memutar gasing adalah tali yang panjang diameter dan bahan bakunya bervariasi pada setiap wilayah Indonesia, tergantung pada sumber daya alam yang tersedia di lingkungannya. Di Tanjungpinang dan wilayah sekitarnya pada umunya tali yang digunakan untuk memutarkan gasing dibuat dari kulit batang pohon Sukak atau kulit pohon Turih Pandan yang dipintal dengan panjang 3 meter untuk gasing penendin dan gasing penahan. Sementara untuk gasing pemangkak digunakan tali sepanjang 1,5 meter. Di Kalianda, Lampung

Selatan, digunakan tali dari kulit batang pohon Kerbang (sejenis pohon yang daunnya seperti daun pohon sukun) yang di pintal sepanjang 1,5 meter untuk memutarkan gasing dalam pertandingan. Di Jawa Barat, tali yang digunakan untuk memutar gasing pada umumnya dibuat dari bahan kain yang dipintal sepanjang 1 meter.

GASING NUSANTARA

Apa dan Bagaimana Gasing Nusantara ?

bali-6Gasing adalah salah satu bentuk permainan rakyat yang bersifat tradisional yang telah dikenal secara luas di seluruh pelosok Nusantara. Semua daerah yang ada di wilayah kepulauan Indonesia umumnya memiliki permainan ini. Itulah sebabnya, bangsa Indonesia yang masyarakatnya multietnik, terdiri dari berbagai suku bangsa mengenal berbagi jenis permainan gasing.

Daerah asal permainan ini dan penyebarannya secara kronologis di wilayah nusantara belum diketahui secara pasti. Data sejarah berupa naskah-naskah kuno maupun data arkeologi, baik artefak maupun non artefak tentang permainan ini belum ditemukan, hingga sulit untuk mengungkap sejarah dan penyebaran permainan gasing di wilayah nusantara secara pasti.

Lombok TimurMenurut informasi dari orang-orang tua penggemar permainan ini, permainan gasing di wilayah Pulau Tujuh (Natuna) propinsi kepulauan Riau telah ada sejak jaman penjajah Belanda, bahkan jauh sebelum masa itu telah ada. Di wilayah Jawa Barat, permainan ini dikenal sebelum masa kemerdekaan. Sementara di wilayah Sulawesi Utara dikenal sejak tahun 30 an.

Di beberapa daerah Indonesia, permainan ini disebut dengan istilah yang berbeda, seperti permainan Gangsing atau Panggal (Jakarta dan Jawa Barat), permainan Pukang (Lampung) permainan Gasing (Jambi, Bengkulu Tanjungpinang, dan wilayah kepulauan Riau, Sumatra Barat) permainan Begasing (Kalimantan Timur), permainan Megangsing (Bali), permainan Maggasing (Nusatenggara Barat), permainan Apiong (Maluku).

Masyarakat Bolaang Mongondow di daerah Sulawesi Utara misalnya, mereka mengenal gasing dengan sebutan Paki. Masyarakat Bugis di daerah Sulawesi Selatan menyebutnya dengan Maggasing atau Agasing (Makasar). Masyarakat Yogyakarta di Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutnya dengan istilah Gangsingan, dan lain lain.

tk-gasingPermainan ini dapat dimainkan oleh anak-anak, orang dewasa, dan orang tua di pekarangan rumah yang kondisi tanahnya datar dan keras. Dengan cara memutarkan gasing, yaitu alat permainan dari kayu keras berbentuk bulat lonjong, jantung, piring terbang, silinder dan bentuk-bentuk lainnya yang merupakan ciri khas daerah masing-masing dengan bantuan seutas tali. Permainan ini dapat dimainkan secara perorangan atau beregu dengan jumlahnya bervariasi, dimana masing-masing daerah berbeda. Demikian pula dengan jenis, bentuk dan ukuran gasing, jenis bahan baku gasing dan aturan permainan gasing dimasing-masing daerah berbeda.